Senin, 04 Oktober 2010

= DUIT BETAWI

DUIT BETAWI

by Chairil Gibran Ramadhan on Thursday, September 30, 2010 at 8:35pm


WAJAH BETAWI

TAHUN 2009 lalu pemerintah kita mengeluarkan uang kertas baru dalam pecahan nominal Rp. 2000. Bagus warnanya, bagus kertasnya, bagus tampilannya. Ada wajah Pangeran Antasari di bagian muka dan tarian adat Dayak di bagian belakang. Kita pun akhirnya menyadari bahwa nominal yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di negeri ini semakin tinggi saja standarnya.

Hingga awal dekade 1990-an, kita masih mengenal uang logam Rp. 50 sebagai nominal terkecil (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut gocap. Waktu itu, dengan uang sejumlah itu kita masih bisa membayar untuk satu gorengan: Singkong goreng, ubi goreng, atau bakwan. Adapun uang logam Rp. 25 sudah tidak terlihat namun masih memiliki nilai bayar?inimal seharga satu buah permen dan biasanya orang membeli 2 atau 4 permen sekaligus. Sebelumnya pada awal dekade 1980-an, nominal terkecil adalah Rp. 5 dan Rp. 10 (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut gotun dan captun, yang cukup untuk membayar selembar kerupuk dan es lilin. Bahkan pada pertengahan dekade 1970-an uang sejumlah tadi cukup untuk satu mangkuk bakso atau sepiring siomay. Pada dekade-dekade sebelumnya di negeri ini dikenal goweng (0,25 sen), peser (0,50 sen), duwit (0,85 sen), sen (1 sen), benggol (2,5 sen), seteng (3,5 sen), kelip (5 sen), ketip (10 sen), talen (25 sen), suku (50 sen), perak (100 sen), ringgit (250 sen), serta ukon (1000 sen) yang sama dengan 10 gulden dan terbuat dari emas.

Kini nominal-nominal itu telah menjadi bagian dari masa lalu kita.

Pada akhir dekade 2000-an ini, nominal terkecil yang kita kenal dan masih memiliki nilai bayar adalah logam Rp. 100. Paling tidak dengan uang sejumlah itu kita masih bisa menelepon satu kali di telepon umum atau membayar selembar kertas yang kita fotokopi. Nominal Rp. 50 masih digunakandi hypermarket, semata sebagai alat pengembalian?arena nyatanya pihak hypermarket tidak mau menerima ketika kita gunakan sebagai alat pembayaran--yang oleh kita akhirnya seringkali dibuang ke selokan, dikumpulkan di stoples kaca (mungkin untuk hiasan), atau ditaruh di kotak amal kaca dekat pintu masuk masjid.

Tentu tak lama lagi uang logam Rp. 100 pun akan tak digunakan, karena standarnya sudah beralih ke uang logam Rp. 200. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Terlepas dari masalah-masalah ekonomi, terbitnya uang kertas Rp. 2000 tadi kembali menggugah kesadaran saya yang sudah ada sejak saya mengenal uang sebagai benda yang dibawa tiap pergi ke SDN 02 Petang tempat saya sekolah di Pondok Pinang dahulu, dan utamanya saat Hari Lebaran ketika anak-anak kecil menerima uang dari para orang dewasa (waktu itu yang saya ingat uang kertas Rp. 100 bergambar badak): "Kapan uang di negeri ini menampilkan wajah Muhammad Husni Thamrin yang kadung diangkat sebagai Pahlawan Nasional, Rumah Joglo Betawi, Tari Topeng, atau hal-lain yang bernuansa Betawi? Minimal satu kali!”

CERPEN BETAWI

SAYA menaruh harapan besar pada Bang Fauzi Bowo sejak ia diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta, untuk bisa memperjuangkan Betawi supaya lebih dianggep dengan hadir di dalam uang bernuansa Betawi. Betawi saya yakin pasti bisa tampil di media serius semacam uang republik kita, setelah sekian lama hanya tampil sebagai bahan lelucon di layar televisi dan panggung-panggung hiburan. Muhammad Husni Thamrin jangan lagi sebatas ada di jalan raya dan jalan-jalan kampung; Rumah Joglo Betawi jangan lagi sebatas ada replikanya di plaza dan mall saat bulan Juni; Tari Topeng jangan lagi hanya ada di pertunjukan Topeng Betawi atau peringatan HUT Jakarta; dan hal-hal lain yang bernuansa Betawi jangan lagi berserakan entah di mana.

Saya pernah ditanya wartawan, apa yang mendorong saya menulis cerpen bernuansa Betawi. Jawaban saya waktu itu begini (dan jawaban itu tak akan berubah): Awalnya lantaran setiap membuka suratkabar nasional edisi ahad yang memuat cerpen sastra, maka yang saya lihat adalah adalah cerpen-cerpen bernuansa Minang, Melayu, Jawa, Bali, atau Sunda. Lantas mana cerpen yang bernuansa Betawi?”

Terus-terang saya merasa miris dengan kenyataan tersebut. Bayangkan, betapa ironis bila suratkabar-suratkabar nasional yag terbit di Jakarta itu, berkantor di Jakarta itu, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta itu, dan Jakarta nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, tapi tidak pernah menampilkan cerpen bernuansa Betawi. Boro-boro ada media cetak yang berbahasa Betawi.

Saya pun sesungguhnya terlambat menyadari hal ini. Sebab pada awal karir sebagai penulis sastra, saya masih menulis cerpen-cerpen bernuansa umum?ergaya realis ataupun surealis?anpa kekhasan nuansa daerah. Akhirnya sejak 2003 jerih-payah saya membela Betawi lewat sastra mendapat pengakuan pertama kali dari Harian Republika dan Dewan Kesenian Jakarta. Saya pun disebut sebagai ?astrawan Betawilewat surat kabar dan buku mereka (kiranya untuk hal ini saya menyatakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ahmadun Y. Herfanda dari Harian Republika dan Bapak Henry Ismono dari Tabloid Nova--keduanya berdarah Jawa).

MIMPI BETAWI

PERKARA tampilnya uang kita yang tak pernah bernuansa Betawi, juga membuat saya miris. Bukan kepada apa dan siapa yang ditampilkan, tapi kepada pihak penyelenggara negara ini.

Bayangkan, betapa ironis bila sejak republik ini berdiri dan kemudian menjadikan Jakarta sebagai ibukotanya (yang artinya juga menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi), lalu Bank Indonesia ada di Jakarta, berkantor di Jakarta, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta, yang nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, namun tidak pernah satu kali pun menampilkan wajah pahlawan berdarah Betawi semacam Bang Muhammad Husni Thamrin, atau Rumah Joglo Betawi, atau Tari Topeng, atau hal-hal lain yang bernuansa Betawi. Apa badak dan orang utan lebih patut diabadikan dalam uang kita daripada Muhammad Husni Thamrin atau seni-budaya Betawi sang tuan rumah?

Tulisan ini memang erat kaitannya dengan minat kedaerahan saya--yang celakanya selalu disematkan hanya kepada orang Betawi dengan alasan bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya beragam etnis, tapi tidak kepada suku-suku lain ketika mereka memperjuangkan keinginannya yang berbau kedaerahan. Namun sesungguhnya tulisan ini lebih merupakan cermin untuk para penyelenggara negara supaya lebih menghargai keberadaan Betawi dan orang Betawi itu sendiri sebagai suku yang memiliki Jakarta--seperti suku Minang yang memiliki Padang dan Sumatra Barat, suku Jawa yang memiliki Yogya dan Jawa Tengah, suku Batak yang memiliki Medan dan Sumatra Utara, suku Sunda yang memiliki Bandung dan Jawa Barat, dan lain-lain, dan lain lain.

Bukankah Betawi juga memiliki Pahlawan Nasional dan seni-budaya?

Kita kadung kecewa bahwa sejak jaman Soekarno di orde lama dan Soeharto di Orde Baru, orang Betawi sangat digencet ruang geraknya di bidang politik. Posisi-posisi mereka di pemerintahan sangat minim. Untuk di kampungnya sendiri, mereka terkadang hanya sebatas menjadi Ketua RT atau Ketua RW. Padahal banyak orang Betawi yang berpendidikan tinggi. Untuk kelas provinsi, paling banter menjadi wakil gubernur. Maka kita patut bersyukur karena dengan berubahnya angin politik maka Bang Fauzi Bowo punya kesempatan sehingga bisa menjadi Gubernur di DKI Jakarta.

Saya (dan mungkin banyak orang Betawi lain) sangat berharap tak lagi hanya bermimpi melihat uang kertas republik ini menampilkan nuansa Betawi. Tabe!

Catatan:

1.Tulisan ini saya khususkan untuk (abjad) Bang Fauzi Bowo, Babe Husain Sain, Babe Nachrawi Ramli, Babe Ridwan Saidi, Bang Yahya Andi Saputra, dan Bang Yoyo Muchtar.

2. Wacana Uang Betawi pernah saya utarakan pada Babe Edy Ruslan Tabrani pada siarannya di Bens Radio (Desember 2000).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar